Di penghujung tahun 2025, RS Kanker Dharmais menggelar kegiatan Internalisasi Nilai Moralitas dan Keikhlasan sebagai momentum evaluasi dan refleksi bersama. Kegiatan ini dilaksanakan pada 23 Desember 2025 di Auditorium Utama RS Kanker Dharmais, Jakarta, dan diikuti oleh para pegawai.
Plt. Direktur Utama RS Kanker Dharmais, dr. R. Soeko W. Nindito D., MARS, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kerja keras serta dedikasi seluruh pegawai yang telah bersama-sama memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, khususnya pasien kanker. Sepanjang tahun 2025, kinerja RS Kanker Dharmais dinilai positif dengan sebagian besar target berhasil dicapai, meskipun masih terdapat beberapa target yang perlu terus diupayakan ke depan.
“Kita patut bersyukur atas capaian kinerja yang sangat luar biasa, meskipun masih ada sebagian kecil target yang belum terpenuhi,” ujarnya.
Tahun 2025 menjadi perjalanan yang sangat berarti bagi RS Kanker Dharmais dengan hadirnya gedung layanan baru yang menambah kapasitas tempat tidur sekaligus memperluas cakupan pelayanan.
Pengembangan ini tentu membutuhkan penyesuaian sumber daya manusia yang tidak dapat dilakukan secara instan. Namun demikian, pemanfaatan gedung baru tersebut berjalan dengan cepat dan tingkat keterisiannya menunjukkan hasil yang sangat baik.
Di satu sisi, menurut dr. Soeko, peningkatan kapasitas ini memungkinkan RS Kanker Dharmais melayani lebih banyak pasien dengan kualitas layanan yang lebih optimal. Namun di sisi lain, kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa jumlah pasien kanker terus meningkat. Bahkan, sejumlah pasien yang sebelumnya memilih berobat ke rumah sakit swasta maupun ke luar negeri kini beralih mempercayakan perawatannya kepada RS Kanker Dharmais. Oleh karena itu, komitmen untuk menghadirkan pelayanan yang adil, nyaman, dan bermartabat bagi seluruh pasien harus terus dijaga.
“Selain itu, RS Kanker Dharmais telah melaksanakan survei kepuasan, baik kepada pegawai maupun pasien. Ke depan, diharapkan komunikasi internal dapat semakin terbuka sehingga setiap masukan dapat disampaikan secara konstruktif. Kenyamanan dan kebahagiaan pegawai dalam bekerja menjadi faktor penting, karena akan berdampak langsung pada kualitas pelayanan yang diterima pasien,” terang dr. Soeko.
Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber, yaitu Dr. Rudi Bastaman, S.Kep., MKM atau yang lebih dikenal dengan Kang Rubast sebagai soft skill partner. Dalam sesi tersebut, ia membahas penguatan budaya kerja melalui topik “Budaya Service Excellent: Melayani dengan Hati”, yang selaras dengan Core Values ASN BerAKHLAK. Materi ini diimplementasikan dalam upaya transformasi budaya kerja internal Kementerian Kesehatan, khususnya dalam penguatan sumber daya manusia kesehatan melalui eksekutif yang efektif, penerapan cara kerja baru, serta penguatan pelayanan unggul.
“Eksekusu efektif sebenarnya ada tiga elemen utama, yaitu Mandatory Knowledge Sharing, Kemenkes 6-Step Execution Model, dan Kompetensi Wajib. Jadi harus mengeksekusi setiap tindakan dengan efektif itu,” jelasnya.
Kang Rubast mengajak seluruh pegawai RS Kanker Dharmais untuk menjadi sumber daya manusia kesehatan yang berpribadi dan berkarakter positif. Dalam mewujudkan great service melalui pelayanan yang melayani dengan hati, terdapat empat prinsip utama yang perlu diterapkan, yaitu hangat, amanah, tepat, dan ibadah.
“Untuk menjadi pribadi dan berkarakter positif, maka kebiasaan-kebiasaan yang harus dimiliki adalah hati, berpikir, komunikasi, dan tindakan yang positif,” tambahnya.
Narasumber lainnya, dr. Gembong Mardani Roseno, MM, menyampaikan materi berjudul “Aspek Moralitas dan Keikhlasan sebagai Motivasi Penting dalam Terwujudnya Layanan Berkualitas dan Beretika.” Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa implementasi nilai moralitas dan keikhlasan dalam pelayanan menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi eksternal maupun internal.
Tantangan eksternal meliputi globalisasi informasi dan teknologi, meningkatnya tingkat pengetahuan masyarakat, regulasi dan pedoman terkait etika, pergeseran nilai moral dan etika sosial, serta tuntutan hukum dari pasien atau pelanggan. Sementara itu, tantangan internal mencakup beban layanan yang berlebihan, keterbatasan sumber daya, manajemen dan pemberian layanan yang belum sepenuhnya profesional, terjebak rutinitas kerja, sikap terlalu percaya diri, demotivasi, demoralisasi, hingga terganggunya keikhlasan dalam bekerja.
“Untuk menyikapi berbagai tantangan tersebut, pentingnya penguatan sistem pengembangan dan pengendalian layanan, baik teknis maupun nonteknis. Selain itu, diperlukan pula penguatan sistem pengembangan dan pengendalian diri bagi para pemberi layanan, serta pengembangan kesadaran diri sebagai fondasi dalam mewujudkan pelayanan yang berkualitas dan beretika,” katanya.
dr. Gembong menambahkan pelayanan yang bermutu dan profesional harus dipandang tidak saja dari perspektif teknis, tetapi juga dari perspektif tanggung jawab moral dan rohani. Moralitas dan Keikhlasan adalah fondasi penting sistem pengendalian diri.
Leave a Comment